1. Penderita usia lanjut tampak mengantuk dengan perubahan kepribadian yang baru terjadi. Nyeri kepala merupakan gambaran hematoma subdural yang penting dan hampir selalu terjadi.
2. Perubahan mental biasanya terjadi dalam beberapa hari sampai beberapa minggu, kadang beberapa bulan.
3. Tidak selalu terdapat riwayat trauma kepala (1/3 penderita hematoma subdural tanpa trauma kepala).
4. Periksa adanya hematoma subdural dengan pemeriksaan CT-scan dan EEG. Kadang tidak terlihat adanya lesi insidens pada pemeriksaan CT-scan. Jadi bila secara klinis sangat curiga adanya hematoma subdural, kerjakan MRI meskipun tidak terdapat kelainan pada pemeriksaan CT-scan.
5. Hematoma subdural bilateral pada pemeriksaan CT-scan dapat terlihat hanya sebagai pendataran sulkus-sulkus korteks serebri; penyempitan ventrikel dapat tidak terlihat. Diagnosis ditegakkan dengan MRI atau arteriografi.
6. Bila secara klinis curiga adanya hematoma subdural, jangan lakukan pungsi lumbal. Pungsi lumbal bukan merupakan sarana diagnostik dan bahkan dapat memperburuk keadaan. (Cairan serebrospinalis penderita dengan hematoma subdural dapat terlihat xantokrom dengan peningkatan protein, tetapi 50% kasus normal).
Pustaka
Neurologi Oleh Buku Saku


